Di kalangan pegolf amatir, nama Eqbal Ludy sudah cukup familiar. Kiprahnya pada olahraga kalangan atas ini sudah dimulai sejak 16 tahun yang lalu. Meski kesibukannya sebagai pebisnis di sector konstruksi sempat membuatnya vakum mengayunkan stik golf di lapangan hijau. Namun, sepak terjangnya selama tiga tahun terakhir, setidaknya telah membuahkan hasil dengan terbentuknya CEPAgolf yang dari hari ke hari terus melebarkan sayapnya.

Eqbal-Ludy-Action“Golf sudah menjadi bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab sosial, terutama untuk member”

Lahir di Lumajang, Jawa Timur 27 April 1966, Eqbal –begitu ia biasa disapa– menyelesaikan pendidikan formalnya di Politeknik Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur serta Universitas Abulyatama jurusan Teknik Sipil di Banda Aceh. Ia pun banyak berkarier di dunia konstruksi, hingga pernah menjabat sebagai Kepala Cabang Wijaya Karya (WIKA) Riau. Namun, panggilan jiwa enterpreunernya begitu santer, hingga ia memutuskan untuk pensiun dini dan mulai membangun bisnisnya sendiri. “Di usia 36 tahun, saya memutuskan untuk pensiun dan memulai usaha sendiri,” ujarnya.

Bagi pria yang juga gemar bernyanyi ini, golf adalah olahraga yang unik, lantaran dapat mencerminkan kepribadian seseorang. “Spirit permainan golf itu honesty, integrity dan courtesy,” terang Eqbal. Ia mencontohkan perolehan angka handicap, yang bisa dengan mudah dimanipulasi oleh pemain. “Di sinilah kita belajar untuk jujur, bahkan untuk segala hal dalam hidup kita,” imbuhnya.

Masih menurut Eqbal, selain berguna untuk menyehatkan badan, olahraga golf juga menjadi jembatan untuk mempererat hubungan bisnis maupun memperluas pertemanan. Terlebih, para penggemar golf berasal dari beragam profesi dan latar belakang. “Di CEPAgolf ada yang membernya pengusaha, pengacara, dokter, politisi hingga direktur BUMN atau pejabat pemerintahan,” terang Eqbal lagi.

Lantaran datang dari beragam profesi Golf sudah menjadi bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab sosial, terutama untuk member dan latar belakang itulah, bukan pekerjaan mudah menahkodai bahtera CEPAgolf. Eqbal harus piawai meramu segala keinginan dan kepentingan para anggota agar dapat menjadi satu visi dalam memajukan organisasi ini. “Golf sudah menjadi bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab sosial, terutama untuk member,” tutur Eqbal tegas. “Keberadaan klub itu melayani member,” imbuhnya.

p eqbal

“Indonesia sangat potensial dikembangkan wisata golf”

Di tengah segala kesibukannya, Eqbal masih menyimpan sebuah harapan. “Indonesia sangat potensial dikembangkan menjadi wisata golf ternama,” ujarnya. Dicontohkannya negara Thailand yang telah memiliki beberapa pegolf kelas dunia, seperti Thongchai Jaidee, Thaworm Wirachan dan Marksaeng. Menurutnya, banyaknya turnamen bergengsi yang digelar serta didukung jumlah golf course yang mencapai 200 lebih adalah salah satu faktor berkembangnya olahraga golf di Negeri Gajah Putih tersebut. Hal ini berimbas pada mengalirnya devisa ke dalam negeri. “Padahal lapangannya lebih bagus di Indonesia. Wilayahnya luas, tapi sedikit sekali jumlah lapangannya,” cetus Eqbal.

Eqbal Ludy

Tak salah kiranya, bila ia mengharapkan CEPAgolf bisa menjadi motor penggerak bagi wisata golf di Tanah Air. “Komunitas ini juga harus bisa mendukung bisnis kita. Inginnya Cepa bisa menjadi industri golf,” katanya mengakhiri perbincangan.