Pecinta golf di Indonesia khususnya para pembina di lingkungan amatir, bersyukur karena setiap Asian Development Tour (ADT) digelar di Indonesia, penentu kebijakan di ADT selalu melibatkan pegolf amatir.

Karena, pada dasarnya, semua pro di negara mana pun mengawali karirnya dari amatir.

Khusus di Indonesia, kehadiran ADT turnamen dapat dijadikan sebagai wahana untuk menambah “jam terbang” bagi pegolf amatir di negeri ini.

Meskipun entry fee yang dikenakan kepada pegolf amatir yang ikut serta dalam event tersebut bisa dua kali lipat jumlahnya dibandingkan dengan biaya yang dikenakan kepada profesional, namun para pembina golf amatir di Tanah Air- termasuk orang tua pegolf amatir itu sendiri – tidak protes.

(Sebagaimana diketahui, bila pegolf pro yang ikut dalam event tersebut dikenakan biaya, misalnya, Rp 750.000,-, pegolf amatir dikenakan biaya sebesar Rp 1,5 Juta).

Tapi, sekali lagi: para pembina pegolf amatir dari asosiasi yang ada di Tanah Air, dari tingkat pengkab/pengkot sampai ke tingkat pengprov, tidak pernah menanyakan masalah perbedaan tersebut.

Namun, sangat disayangkan apresiasi dari penyelenggara terkesan mengabaikan kehadiran para pegolf amatir tersebut.

Contohnya seperti Combiphar Golf Invitational, turnamen Pro dengan hadiah uang sebesar USD.60.000 yang diselenggarakan oleh Asian Development Tour pada 23-26 November 2016 di Gunung Geulis Country Club

Narajie E. Ramadhan Berhasil Meraih Gelar Lowest Amateur di Turnamen Combiphar Golf Invitational.
Narajie E. Ramadhan Berhasil Meraih Gelar Lowest Amateur di Turnamen Combiphar Golf Invitational.

Naraajie, pegolf amatir dari Pengprov PGI Jawa Barat, yang dalam event ADT tersebut finish di T16 dari 58 pegolf yang lolos cut-off bersama Danny Masrin pegolf pro Indonesia dan satu pemain lagi John Michael O’Toole yang berasal dari Amerika dengan total skor sama 279 atau 5 under par, Naraajie menjadi Lowest Amateur.Dan, diakui atau tidak, skor under yang dibukukan oleh Naraajie jauh lebih baik dibandingkan pro lokal dan amatir lainnya.

Tapi, sekali lagi, sangat disayangkan karena bentuk apresiasi yang diberikan hanya sebatas pemberitahuan dan foto bersama juara Pro saja tanpa diberi medali/piala atau piagam. Berapa sih harga sebuah medali/piala atau selembar kertas piagam?

Tanpa disadari para penyelenggara turnamen pro Combiphar Golf Invitational Asian Development Tour di sini melupakan efek psikologis yang dirasakan oleh sang Lowest Amateur. Kalau begitu, untuk apa mereka melibatkan pegolf amatir kalau pada akhirnya tidak ada apresiasi yang layak untuk mereka?!

(DM)

LEAVE A REPLY