Kehidupan Para Wanita Caddy Padang Golf Ibu Kota (1)

jpnn.com

Mencuatnya dugaan cinta segi tiga yang melibatkan wanita caddy padang golf, Rani Juliani, dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain membuat profesi itu disorot. Bagaimana upaya mereka menangani para pemain golf yang iseng? Inilah penelusuran tim Indopos (JPNN Group). — Ketika matahari perlahan mulai turun, warna biru langit mulai gelap, area parkir klub golf Modern, Tangerang, masih dipenuhi puluhan mobil mewah. Di antara deretan mobil itu, ada sekelompok pria -yang diketahui berprofesi sopir- ngobrol ringan di sekitar taman sambil menunggu juragannya bermain golf di lapangan. Setiap akhir pekan, mayoritas pengunjung klub golf di Jakarta dan sekitarnya tercatat lebih banyak daripada hari lain. Saat koran ini masuk ke restoran klub, tampak para pegolf kongkow-kongkow sambil melepaskan lelah setelah menghabiskan game 18 hole di lapangan. Di belakang restoran, menuju starter (tempat pemukulan, Red), belasan caddy wanita berjalan menuju kamar ganti. ”Jam pulang biasanya memang sebelum magrib. Yah, itu kalau kebagian shift sore,” kata Iyung, 22, salah satu caddy di Padang Golf Modern. ”Jadi caddy itu capek. Bulan-bulan pertama saya mengeluh terus karena kelelahan, tapi mau bagaimana lagi? Belum kepikiran pekerjaan lain,” tutur Iyung, gadis tamatan SMK Indramayu, diamini tiga caddy lain, Siti, 22; Indri, 22, dan Yus, 23. Setelah mandi dan berganti kostum, empat dara itu meneruskan cerita awal mula mereka terjun sebagai caddy. Mereka mengaku menjalani caddy mulai dari salah satu yayasan yang menyediakan jasa pramugolf di daerah Bogor, Jawa Barat. Yayasan ini mengirimkan caddy-caddy baru ke klub-klub golf di Bogor, Jakarta, dan Tangerang. ”Karena nganggur dan gak tahu harus cari kerja apa, saya lantas pergi ke Bogor. Satu bulan training saya lalu mendapat kerja di sini,” jelas gadis berambut ikal tersebut. Ketika mendapat kerja, mereka harus mengembalikan biaya hidup yang dikeluarkan yayasan, yakni Rp 2,5 juta. ”Saya mengangsur biaya itu selama satu tahun. Alhamdulillah sudah lunas,” kata gadis itu. Selain menanggung beban biaya yayasan, para caddy ternyata menyimpan beban moral yang berat. Irma (nama samaran) salah satunya. Tiga tahun berprofesi sebagai freelance, caddy di salah satu padang golf ternama di Jakarta Utara itu mengaku profesinya masih dipandang miring oleh warga sekitar tempat tinggalnya. “Tetangga-tetangga aku itu sudah menganggap kalau kerja di golf itu nggak bener,” ujarnya. Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa wanita berprofesi caddy tidak ubahnya PSK. Irma mengaku telinganya menjadi panas. “Aku dikatain jablay lah, simpanan om om lah,” tegasnya. Padahal, menurut Irma, bekerja di lapangan golf paling ketat peraturannya. Berkencan dengan pemain merupakan larangan paling keras. Jika ketahuan perusahaan, langsung terkena sanksi terberat, yaitu dipecat. Mungkin saja pihak perusahaan benar-benar menjaga citra. Irma mengaku tiga bulan mendapat training dari perusahaan. Dia diajari mulai cara berbicara, bersikap, hingga penguasaan peraturan permainan golf, seluk-beluk padang golf, dan strategi bermain. Caddy juga dituntut memiliki ide kreatif dan memberi saran mengenai teknik-teknik pemukulan bola (shooting). Kesalahan mencatat skor bisa mendatangkan sanksi, yaitu komplain dari player. Namun, tugas berat itu tidak seimbang dengan penghasilan resmi dari perusahaan. Menurut Irma, rata-rata caddy menerima sekitar Rp 1,2 juta per bulan. Tapi, dia juga menerima penghasilan tambahan dari tip pegolf. Dia mengaku setiap hari minimal menerima tip Rp 50-100 ribu. Pegolf memberi tip besar biasanya saat mereka menang taruhan. ”Olahraga golf itu tak pernah surut dari ajang berjudi. Kalau memang dia (pegolf) menang kan seneng. Kita biasanya dikasih tip gede,” ungkap gadis berpostur semampai itu. Apa tidak pernah digoda pegolf? Untuk urusan yang satu ini, Irma menilai hampir seluruh pegolf yang pernah dilayani itu genit dan suka menggoda. “Mereka kebanyakan sudah tua-tua. Tapi, kelakuan mereka pada begitu-begitu semua,” ujarnya. “Omongannya itu loh yang bikin sebel. Ada yang ngomong begini, ini hole-nya hampir habis, harus cari hole yang lain nih. Kamu sanggup enggak, Dik,” lanjut Irma. Meski terdengar tidak enak, Irma mengaku terus bersabar. Dia hanya membalasnya dengan senyuman. Cara player merayu caddy itu rata-rata dikemas dalam konteks bercanda. Dengan cara bercanda, player tak segan-segan mengajak berkencan secara halus. Jika menyanggupi ajakan itu, kencan player-caddy itu bisa benar-benar terwujud. Seperti pengakuan seorang mantan caddy, Bunga (nama samaran). Bunga pernah lima tahun bekerja di tempat yang sama dengan Irma. Tapi, dia keluar karena menikah dan punya anak. Bunga mengaku melayani player hingga di luar lapangan golf. Bunga beberapa kali berkencan dengan seorang player yang kala itu berprofesi sebagai polisi berpangkat komisaris. Dia terpaksa melakukannya karena tuntutan ekonomi. “Tapi gue melakukannya masih dalam batas-batas yang wajar kok,” ungkapnya ketika dihubungi Indopos via telepon. Kencan itu berawal dari sebuah turnamen golf yang diselanggarakan oleh salah satu institusi Polri. Sebut saja sang pegolf itu bernama Anugerah. Bunga ditugasi oleh master caddy untuk mendampingi sang komisaris muda itu. Nah rupanya hati sang komisaris kecantol di padang rumput. Selepas turnamen, Anugerah yang tak meraih juara apapun itu memberi tips yang lumayan besar jumlahnya. “Waktu itu saya dikasi Rp 300 ribu. Tapi, setelah itu, emm dia bisik-bisik ke gue,” ungkap Bunga. Anugerah mengatakan akan memberi tips dengan jumlah berkali-kali lipat asalkan Bunga mau mengontaknya. Lalu dia menyerahkan secarik kertas kecil bertuliskan nomor ponselnya dan menyerahkan kepada Bunga. “Ada tulisannya, call me/sms please,” ujar Bunga. Bunga dikala bekerja memang dilarang membawa ponsel oleh perusahaannya. Sepulang kerja, Bunga sempat bimbang antara membiarkan saja atau menghubungi Anugerah. Namun dia kemudian mengirim SMS untuk memberitahu nomor Bunga kepada Anugerah. Setelah itu sang komisaris langsung menelepon Bunga. Maka setelah itu terjadilah kencan yang pertama. Bunga diajak makan di salah satu restoran cepat saji di mal kawasan Jakarta Selatan. Sesudah itu Anugerah menepati janjinya, yaitu dengan memberikan uang Rp 500 ribu. Acara makan selalu terulang beberapakali di tempat yang terpisah. Pada akhir perpisahan Anugerah selalu memberi amplop kepada Bunga dengan jumlah yang cenderung lebih besar. Pertemuan itu selalu dilakukan di luar jam kerja Bunga. Karena merasa berjasa, semakin lama sikap Anugerah semakin jahil dan berani kepada Bunga. Bunga, kendati merasa risih, awalnya menuruti kemauan Anugerah untuk berciuman. “Biasanya sih di mobil, waktu nganter gue pulang,” terangnya. Namun, suatu saat Anugerah mengajaknya check in ke hotel. Bunga langsung menolak dan akhirnya memutuskan hubungan dengan Anugerah dengan berganti nomor ponsel. Ditanya kenapa ajakannya ditolak, Bunga langsung bereaksi keras. “Yah, gue enggak separah itu kali Bang,” tegasnya. Bunga mengaku setelah putus komunikasi Anugerah masih mengejarnya. Beberapa kali Anugerah berusaha menemuinya setelah bermain golf di tempatnya bekerja. Kebetulan di padang golf tersebut pemain tidak bisa memilih caddy. Melainkan caddy ditentukan oleh master caddy. Beruntung Bunga selalu terhindar untuk mendampingi Anugerah di lapangan golf. Beberapa kali pula Anugerah sengaja datang pada saat jam pulang dan menawarkan jasa antar. Tetapi Bunga dengan tegas menolaknya. Selain Anugerah, Bunga mengaku melayani beberapa player di luar padang golf. Dari hasil kerja tambahan itu, Bunga mampu membeli tanah sekitar 90 meter persegi di kawasan Bekasi. Dia juga merenovasi rumah orang tuanya dan menambah bangunan menjadi dua lantai. Bunga yakin beberapa caddy berbuat lebih berani. Yaitu, mau diajak berkencan hingga check-in. Sayang, Bunga tidak mau memberitahukannya kepada wartawan koran ini. “Kalaupun gue kasi tau, pasti anaknya kagak mau kali Bang. Ya, malulah,” tegasnya. Menurut Bunga, kerja sampingan itu benar-benar dilakukan secara rahasia. Sebab, jika sampai ketahuan caddy master, pasti langsung dipecat. “Dulu katanya pernah ada yang ketahuan terus dikeluarin. Tapi gue tidak tahu pasti gimana ceritanya,” tegas Bunga. (dni/jpnn/iro)